Birahi Ibukota

Malam belum terlalu larut, kira-kira baru jam 22.15. Seminggu sudah sejak pertemuanku dengan Natalie (Keindahan Pada Akhir). Masih terasa keliaran dan kenikmatan percintaanku dengan Natalie. Hari jumat adalah malam yang panjang bagi yang menggemari kehidupan malam. Sambil merokok santai aku mengarahkan mobilku memasuki sebuah kompleks pertokoan yang didalamnya terdapat sebuah diskotik yang cukup ternama dikalangan penggemar dugem di ibukota.

Suasana cukup ramai terutama di pintu masuk banyak berdiri ABG ibukota yang sedang menunggu teman mereka dengan pakaian yang cukup mengundang selera laki-laki normal. Aku hanya tersenyum pada yang menjaga di pintu masuk karena mereka cukup kenal dengan diriku dan aku melangkah masuk disambut dengan suara dentuman house music yang cukup dapat membuat pasien lemah jantung mati berdiri.

Setelah beberapa lama berkeliling atau hunting mencari teman yang aku kenal maupun yang mau aku kenal, akhirnya aku mendapat tempat agak dipojok ruangan tetapi cukup banyak traffic orang berlalu lalang. Dan aku pun merasa nyaman di posisi ini.

Waktu berlalu dan tidak terasa sudah 2 butir pil inex aku minum dan aku merasa dalam dunia lain, dimana seluruhnya terasa indah, nyaman dan hilang seluruh masalah yang aku hadapi dalam dunia nyata. Jarum jam menunjukkan pukul 03.45 dan pengaruh obat itu pun sudah hilang setengahnya dan aku agak merasa BT hanya berdugem ria seorang diri dan aku memutuskan untuk pindah ke lokasi lain.

Pada saat aku baru mau beranjak meninggalkan mejaku, tiba-tiba badanku agak terdorong keras ke depan dan aku menoleh ke belakang melihat dan di depan mataku ada seorang wanita kira-kira berusia 25 tahun dengan rok blue jeans ketat dan kaos dibalut jaket kulit hitam.

“Sorry, aku lagi cari teman-temanku, kamu lihat temanku?” dia bertanya. Dengan mata yang agak kabur aku menatap wajahnya yang cantik (entah pengaruh obat atau dia memang cantik) aku menjawab..
“Sorry dari tadi saya sendirian”

Dia menggelengkan kepala seakan pusing dan mencoba melangkah tapi malah terjatuh ke arahku. Secara refleks aku memeluk pinggangnya dan terciumlah bau alkohol yang cukup menyengat.

“Kamu mabuk?” tanyaku padanya. Dia hanya tersenyum dan berkata..
“Cuma sedikit”. Aku mencoba memapah dia ke kursi tapi dia menggelengkan kepala sambil berkata..
“Aku mau pulang saja”. Aku bertanya..
“Mau aku antar?” Dia menggeleng..
“Antar aku ke mobilku saja, aku bawa mobil sendiri”. Pengaruh obat padaku agak menurun drastis, dengan agak ragu aku bertanya..
“Apa kamu sanggup bawa mobil dalam kondisi seperti ini?”
“Tolong bawa aku sampai parkir valet mobil saja” sahutnya.

Kemudian aku membimbing dia menuju mobilku dan kemudian kami menuruni parkiran menuju tempat valet mobil. Aku masih sempat memberi sedikit minyak angin kepadanya dan pada saat sampai di tempat valet dia memberikan tanda valet dan aku masih menunggu dia sampai dia menaiki mobilnya, tapi sebelum dia naik dia berbalik dan bertanya kenapa aku belum pergi dan aku jawab aku khawatir dengan kondisinya dan kalau boleh aku mengawal dari belakang sampai tempat tinggalnya. Dia tersenyum manis dan berkata..

“Silakan dan thanks telah menolongku”

Mobilnya kemudian bergerak didepanku dan aku mengikuti dari belakang. Ternyata tempat kostnya hanya berjarak 700 m dari kompleks pertokoan tersebut. Pada saat dia masuk ke dalam gang tersebut dia berhenti dan keluar dari mobilnya dan bertanya padaku..

“Kamu mau kemana?” Aku katakan bahwa aku ingin bersantai.
“Sendirian?” tanyanya padaku lagi.
“Ya” jawabku.
“Tunggu, aku parkir mobilku dulu dan aku ikut sama kamu” teriaknya.

Aku hanya diam dan beberapa saat dia memasuki mobilku. Pahanya terlihat begitu merangsang karena rok blue jeans yang dia kenakan cukup mini.

“Please jangan macam-macam, aku mau ikut kamu karena tadi kamu waktu menolong aku, aku lihat kamu tidak macam-macam atau raba-raba cari kesempatan” katanya tiba-tiba.

Entah tiba-tiba nafsuku menggelora melirik kaos yang dikenakan karena dia membuka jaketnya hingga terlihatlah pinggang yang kecil ramping dengan sepasang buah dada berukuran 36 yang cukup membuat nafasku terhenti. Tanpa berpikir panjang aku mengarahkan mobilku ke motel favoritku di dekat daerah Jakarta Utara. Pada saat mobilku memasuki motel, matanya terbuka dan dia bertanya..

“Kemana kita?”. Kujawab bahwa ini adalah tempat istirahatku. Dia hanya menggumam lirih, rupanya pengaruh alkoholnya masih cukup berat.
“Terserah, yang penting jangan macam-macam atau aku pulang!”.

Setelah masuk dan membayar, aku menuntun dia memasuki kamar dan menyalakan sound system dan TV yang ternyata sedang menampilkan blue film. Pengaruh obat yang sudah menurun kembali naik mendengar dentuman house music di kamar ini. Aku memesan bir hitam tiga botol dan mengajak dia minum. Walaupun dia sudah mabuk berat sambil memejamkan mata tetapi dia masih dapat meminum kira-kira 1 botol besar bir hitam.

Pil inex merk Valentine yang aku minum ternyata bereaksi dan nafsuku menggelora melihat tubuh ramping berpostur kira-kira 155 cm dengan berat 42 kg tetapi dengan pinggul yang montok dan terutama sepasang buah dada ukuran 36 yang membusung keras hingga meminta tanganku menjamahnya.

Tapi ada satu hal yang pasti, aku tidak mungkin bersenggama dengan kondisi masih 30% dalam keadaan on karena biasanya senjataku tidak pernah dapat berfungsi normal dalam keadaan on, tapi nafsuku sudah sampai keubun-ubun. Tubuhnya tergolek dengan kaki sebelah terangkat sehingga seluruh paha beserta isinya tampak. Paha yang mulus dengan CD warna hitam membungkus membentuk tonjolan kenikmatan. Aku melihat dia hanya terdiam dan tidak bergerak. Kemudian aku melihat ternyata resluitingnya terletak di samping roknya dan dikombinasi dengan kancing yang ternyata dapat dibuka seperti jaket.

Aku mencoba meraba dadanya perlahan dan di balik kaos ketat itu aku dapat meraba buah dadanya yang terbalut oleh BH tipis sehingga ujung putingnya dapat aku gesek dengan jariku. Dia tetap terdiam, aku mencoba memegang daerah pinggangnya ke arah resluiting dan menariknya perlahan, pada awalnya agak macet dan aku berpindah ke sampingnya dan mencoba menggunakan dua tanganku untuk menariknya turun. Perlahan tetapi pasti akhirnya bergerak juga sampai terbuka sedikit karena terganjal kancing blue jeans sebanyak 5 buah.

Nafasku semakin memburu, nafsuku semakin menggelora. Perlahan-lahan aku membuka satu kancing berhasil, 2.., 3.. dan yang keempat agak sulit karena kemontokan pinggulnya sehingga kancing tersebut tertarik keras. Tetapi setelah agak lama terbukalah kancing keempat dan yang terakhir. Kini tanganku kembali meraih resluiting yang macet tadi, perlahan aku menarik turun.. terus dan akhirnya terlepas. Dan ada sesuatu di luar dugaan yang mengejutkanku, aku merasa ada rasa hangat di ujung helm kejantananku yang biasanya mati total kalau sedang on.

Kemudian aku membuka rok itu ke kanan dan ke kiri sehingga terpampanglah paha mulus dengan pinggul yang montok dengan CD warna hitam berenda sutra halus. Kemudian entah dia merasa agak lega atau bagaimana, kakinya agak bergeser dan membuka sehingga semakin jelaslah pemandangan yang membuat kepalaku berdenyut keras. Tanganku meraba kejantananku di balik celana dan menggosoknya pelan dan tiba-tiba ada sedikit denyutan yang kukenal adalah tanda apabila aku akan ereksi.

Dengan cepat aku membuka celana dan celana dalamku tapi aku melihat kejantananku hanya agak membesar tapi belum ereksi. Mataku beralih ke tubuh molek yang berpose begitu menggairahkan itu. Aku memutuskan untuk melampiaskan nafsuku dengan mengoral gadis ini habis-habisan sehingga nafsuku dapat terlampiaskan. Aku mencoba menyelipkan jariku ke samping celana dalam yang ia kenakan dan dengan perlahan sekali kadang aku berhenti mencoba menarik celana itu agar terlepas.

Melihat celana tersebut bergeser, perlahan nafsuku membludak di kepala dan berharap aku dapat ereksi. Pada saat celana dalamnya menuruni pinggulnya tampaklah rambut hitam tersembul cukup lebat dan sedikit lagi akan tampak lubang kenikmatan yang sangat aku sangat sukai dan idamkan.

Pada saat celana dalamnya telah meninggalkan pinggul dan pantatnya, dia agak bergerak dan aku pun berhenti menahan nafas berharap agar dia tidak terbangun. Setelah beberapa saat aku menarik lepas celana dalam tersebut lepas dari kaki kanannya. Dan kini terpampanglah pemandangan yang membuat aku rela mati untuk dapat menikmati ini.

Wajah cantik dengan rambut berombak sebahu dicat warna pirang agak berantakan yang dialasi bantal warna putih itu, turun ke bawah di balik kaus hitam ketat tersembunyi dimana sepasang gundukan kenyal yang seakan memberontak minta dilepaskan dari BH warna hitam halus yang membalutnya. Kemudian pada perutnya yang rata aku melihat bulu halus menurun ke arah lembah hitam yang ditumbuhi rambut hitam lebat, dan tampak segaris lembah kenikmatan tapi tidak terlihat lubang seperti biasanya, hanya segaris cukup rapat.

“What a beautiful girl like this” otakku hanya dapat mengatakan itu.

Aku meraba batang penisku dan berharap dapat berereksi sehingga aku dapat menuntaskan malam ini. Aku mengelus perlahan seraya mengocok batangku dengan mata yang tidak terlepas dari celah kenikmatan yang aku pastikan akan memberi kenikmatan luar biasa jika aku bisa memasukinya. Entah mengapa malam ini aku dapat merasakan ada reaksi balik dari kejantananku setiap aku menyentuhnya, dan aku melirik ternyata dia membesar juga walaupun masih dalam kondisi lembek tapi berhasil mencapai 60% dari kondisi full ereksiku.

Melihat posisi pahanya yang terbuka, aku memutuskan untuk segera mengoralnya. Aku merendahkan tubuhku dan meletakkan kepalaku di antara kedua belah pahanya dan menyelipkan satu tangan di bawah paha yang terangkat tertekuk. Perlahan aku menjulurkan lidahku dan menyelusuri garis itu dari bawah menuju ke atas. Pada ujung garis tersebut aku agak menekan mencoba menggunakan ujung lidahku untuk membuka sedikit celah itu dan mencoba menemukan clitorisnya. Beberapa saat aku mengulanginya dan setelah beberapa saat kemudian aku menemukan sesuatu yang agak keras dan menonjol di ujung lembah kenikmatan ini.

Tiba-tiba ia agak menggeliat tetapi posisinya malah agak membuka lebih lebar sehingga kelihatanlah yang aku cari yaitu clit yang amat kusuka bila berada dalam mulutku dan kukunyah perlahan dan halus. Tanpa membuang waktu, aku segera mengunyah clit tersebut dengan amat bernafsu sehingga aku menjulurkan lidahku secara ganas mengulek clit tersebut di dalam mulutku.

“Ohh”, ia merintih keras dan menggerinjal tapi tanganku dengan sigap menahan kedua pahanya agar tidak bergerak. Suara rintihannya semakin keras dan tiba-tiba dia berkata..
“Please lepaskan, aku nggak mau begini!” aku tahu dia mencoba berontak tapi tenaga wanitanya yang mabuk berat bukan tandingan tenagaku.

Setelah beberapa lama, nafasnya semakin berat dan rontaannya semakin melemah. Aku mencoba membuka celah tersebut dengan lidahku dan akhirnya celah tersebut terbuka dan aku menjulurkan lidahku sedalam-dalamnya secara liar dan bernafsu. Rontaannya kembali semakin tidak terkontrol. Tiba-tiba aku merasa ada aliran hangat ke batang penisku dan aku dapat ereksi walau tidak full tapi sudah agak keras. Tanpa membuang waktu, aku membuka kedua pahanya lebar-lebar dan ditahan oleh pangkal lenganku tapi bukan di pundak.

Sebelum dia sadar, aku menempelkan ujung kepala penisku yang baru membesar 60% sehingga tidak terlalu besar dengan kondisi ereksi 50%. Mungkin karena tidak terlalu besar, aku dapat mendorong kepala tersebut masuk sebatas leher penisku dan terganjal oleh kelembekan penisku dan kesempitan lubang vaginanya. Aku terdiam dan menahan nafas, tiba-tiba aku merasa denyutan di ujung kepala penisku yang terbenam dalam daging kenikmatan tersebut.

Perlahan penisku agak mengeras dan agak membesar, aku mencoba menekan dan menemukan sedikit celah untuk masuk tapi lagi-lagi terhenti. Perlahan tapi pasti, dalam waktu 5 menit ereksiku dapat mencapai 80% dan adalah suatu pengalaman yang luar biasa merasakan penisku mengembang perlahan di dalam vagina yang sempit dan menjepit keras, nikmat berdenyut membesar dan mengisi rongga itu dengan perlahan.

Setiap dorongan menimbulkan suatu rasa nikmat di kulit penisku dan itulah yang memacu penisku dapat mengeras. Akhirnya aku menahan nafas dan mencoba mendorong sedalam-dalamnya dan penisku bergerak perlahan sekali tetapi semakin maju sedikit semakin mengeras dan membesar. Ia merintih dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seraya mencoba berontak, tapi dengan posisi ini seluruh berat tubuhku ditumpukan di kedua belah pahanya agar tetap mengangkang lebar dan tidak bisa bergerak.

Setelah masuk kira-kira 3/4 bagian, aku berdiam dulu merasakan hangatnya penisku dijepit oleh daging hangat yang berdenyut lembut, dan ia pun agak tenang walaupun tangannya masih mencoba menolak perutku. Tanpa membuang waktu, aku menggeram mendorong amblas seluruh batang penisku sambil kuberatkan bobot tubuhku seluruhnya sehingga amblas sedalam-dalamnya dan tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali. Woww.., kenikmatan yang amat sangat menyergap penisku pada saat aku mencapai dasar dan menggesek benjolan daging di dalam vaginanya.

Denyutan vaginanya amat berbeda pada saat batangku belum amblas seluruhnya, begitu ketat dan hangat tidak terlukiskan dengan kata-kata. Aku merasa penisku akan membesar melebihi ukuran normal kalau saja aku tidak menggunakan obat (sampai terasa agak pegal karena ototku penisku membengkak). Aku menahan nafas dan membatin bahwa tanpa digerakkan pun aku sudah merasakan nikmat melebihi senggama normal.

Kemudian aku mencoba menarik perlahan sebatas kepala penis dan amat dashyat terasa gesekan dua kulit lain jenis bila beradu. Aku mendorong sebanyak 5-6 kali secara perlahan dan melihat kepala penis di bawahku terasa seperti diombang-ambing ombak badai luar biasa, hingga pada hitungan ke-7 aku menekan sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya serta menggerakkan ujung penisku hingga berhasil menemukan daging kecil dalam lubang tersebut. Ia berteriak dan mendongakkan kepalanya hingga terlihat hanya putih bola matanya serta bibir indahnya yang digigit keras sekali.

Aku membungkuk untuk mencium bibirnya dan membuka paksa mulutnya agar merekah menyambut lidahku. Tak disangka, dengan ganas ia menyambut lidahku dan mengulumnya serta menyedotnya. Goyangan itu aku ulangi terus sampai dia menggigit bibirku keras sekali dan akhirnya aku tahu bahwa dia telah mencapai orgasme yang pertama. Seluruh tangannya meraba dan mencakar punggungku kuat sekali. Aku tidak peduli dan aku terus menggenjot tubuh indah dan nikmat ini perlahan tapi dalam dan disertai putaran seperti gerakan membor lubang kenikmatan tersebut. Kini dengan dipenuhi cairan kenikmatan tersebut, gerakan memborku semakin ganas hingga biji matanya tidak pernah pudar, selalu memutih setiap kali aku membuat gerakan sedalam-dalamnya dengan gerakan membor.

Tiba-tiba aku melepaskan penisku dan dia berteriak, “Aahh!”. Dengan agak kasar dan bernafsu aku membawa dia ke tepi ranjang dan membalikkan tubuhnya menjadi berposisi doggy style. Dengan cepat penisku amblas kembali dengan suatu sentakan cepat hingga sesaat kepalanya terdongak kaget akan tetapi langsung terkulai kembali ke kasur.

Aku menggenjot dengan mantap tetapi lembut dan dalam posisi ini aku dapat menemukan daging tersebut dan menguleknya menggunakan ujung kepala penisku dengan pelan tapi bertenaga dan lama. Hanya ada rintihan dan cakaran tangannya ke sprei di depannya dan sentakan pinggulku menerobos lubang itu berulang-ulang selama lebih kurang 15 menit dalam kamar itu. Cairan kenikmatannya kembali keluar dan keluar kira-kira 3 kali dan akhirnya menetes deras ke kasur di bawahnya.

Aku merasa ingin orgasme tapi belum juga sampai hingga beberapa lama kemudian aku membalikkan tubuhnya lagi dan aku menariknya ke tengah ranjang. Aku mengganjal pantatnya dan mencari tissue untuk mengeringkan lubang vaginanya. Aku membisikkan ke telinganya bahwa kalau basah aku tidak bisa keluar dan bisa-bisa sampai siang pun aku tidak akan melepas dirinya. Dan dengan gerakan yang sudah tidak bertenaga sama sekali ia mencoba mengeringkan vaginanya sebisanya dan lalu tubuhnya kembali rubuh tidak bertenaga ke belakang. Setelah siap, aku mengangkat kedua kakinya ke pundakku dan bersiap untuk melancarkan gerakan paling mantap yang akan pernah ia rasakan.

Aku mengambil nafas dan meletakkan kepala penisku yang sudah agak lebih besar daripada biasanya di gerbang vaginanya. Agak seret dan sulit karena kini penisku sudah mengeras sepenuhnya dan bibir vaginanya dalam keadaan kering. Aku mengambil keputusan memaksanya dengan sekali sentakan mendorong penisku masuk dan penisku memasuki gerbang tersebut dengan lambat sekali dan begitu nikmat setelah agak kering.

Sebatas kepala penisku gerakannya tertahan oleh otot vaginanya. Aku mencoba mengambil ancang-ancang dengan gerakan keluar masuk pendek kira-kira 3 kali sesudah itu aku mendorongnya dan aku merambat pelan menggesek membelah dan menghunjam ke dalam vaginanya dengan mantap dan dibantu dengan berat badanku, aku mencapai dasar vaginanya dan menggeseknya kasar tapi perlahan dan erangannya membahana di dalam kamar..

“Oohh god.., godd.. Godd.”

Aku menarik penisku seperti irama biasa 6 pendek dan 1 panjang tapi kini dengan posisi sedalam-dalamnya hingga aku bisa mengulek bagian dalam vaginanya dengan leluasa tanpa hambatan. Kini aku melaksanakannya bertambah cepat dari waktu ke waktu seakan aku hampir mencapai garis finish. Kombinasi inex ditambah vagina yang rapat dan nikmat dari gadis ini dan wajah yang begitu sensual di bawahku menciptakan suatu ilusi birahi serasa di langit ketujuh.

Aku memejamkan mataku, dentuman house music mengangkat sisa on tadi dikombinasi gesekan nikmat vagina di bawahku. Hanya ada satu yang aku kejar sekarang, aku ingin menumpahkan semua cairan birahiku di dalam vagina nikmat ini sedalam-dalamnya. Semakin cepat aku bergerak semakin keras rintihannya hingga tiba-tiba aku merasa denyutan yang luar biasa meremas-remas batangku dan semburan hangat dalam vaginanya membungkus seluruh batangku dan kepala penisku. Dan aku tidak bisa mencegah suatu denyutan nikmat dalam batangku merambat cepat tidak tertahankan ke kepala penisku dan berakhir dengan semburan nikmat berulang-ulang tanpa bisa aku cegah dan setiap semburannya selalu meningkat rasa nikmatnya hingga semburan terakhir.

Aku memeluk kedua belah pahanya erat-erat dan setelah gelombang kenikmatan tersebut mereda, baru aku bisa membuka mata dan melihat tubuh di bawahku yang tergolek tersengal-sengal dan melihat lagi di antara jepitan pahanya dan pahaku, menetes tanpa henti cairan kental keputihan seakan vaginanya sama sekali tidak dapat menampung cairan kami berdua. Kemudian aku mencabut batang penisku yang masih setengah mengeras dan merebahkan diri di samping tubuhnya.

Tanpa sadar aku tertidur dan hingga kira-kira pukul 11 siang aku terbangun dan mendapati tubuh molek ini masih tertidur lalu tiba-tiba nafsuku naik lagi membayangkan pertempuran subuh tadi dan aku mengulanginya lagi sementara ia hanya bisa mengikutinya sambil berbisik..

“Kamu gila, kamu bukan orang, kalau pacarku hanya mampu sekali dan itupun hanya 5 menit”. Aku hanya tersenyum serta memperkeras dorongan pinggulku sampai aku mencapai ledakan kedua sekitar jam 12 siang.

Setelah kami tidur sampai jam 3 dia bangun mandi dan berpakaian demikian juga aku dan kami berdua merokok tanpa bicara dan akhirnya dia bicara..

“Kamu bangsat, aku percaya kamu tapi kamu malah mengerjaiku habis-habisan!” Aku memandangnya tajam dan menghampirinya dan memegang rahangnya aku bertanya..
“Apa benar itu yang kamu rasakan?” Dia menangis sesenggukan hingga aku kehilangan akal. Setelah beberapa saat dia berbicara lirih dengan muka menatap lantai.
“Aku bohong, kalau kita ketemu sebelum aku bertemu tunanganku, sumpah mati aku akan ikut kamu kemana kamu pergi agar dapat selalu memperoleh kenikmatan yang kamu berikan tadi, tapi aku harus menikah bulan depan, dan aku takut kehidupan sexku akan menjadi hambar setelah ini semua!”
“Aku benci kamu, kamu bangsat, kamu hanya memberikan ini untuk pertama kali dalam hidupku dan sekaligus terakhir kalinya!”, lanjutnya. Lalu aku bertanya..
“Apa kamu masih perawan?”
“Bukan itu yang aku maksud, tapi arti dari sex yang kamu beri belum pernah aku rasakan dari yang lain. Aku tidak munafik, aku menganut free sex sebelum ini, tetapi di saat memasuki perkawinanku aku ingin setia pada pasanganku, tapi kamu membuatku terkenang atas keindahan sex yang tadi kita lakukan!”

Akhirnya setelah terdiam 15 menit dia mengajakku pulang dan dalam perjalanan pulang aku baru tahu dia bernama Ita dan bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan Jepang di Cibitung. Waktu aku meminta nomor teleponnya, dia terdiam dan menangis seraya berkata..

“Untuk menyelamatkan perkawinanku, lebih baik aku tidak bertemu denganmu lagi dan aku tidak akan memberikan nomor teleponku padamu..”

Aku hanya terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa lagi sampai tepat berada di depan kostnya. Dia melihatku tajam dan meraih leherku dan menciumku lama sekali dan berbisik..

“Besok aku akan pindah rumah lagi, sebab aku takut kamu akan nekat datang ke sini lagi”

Sesudah itu dia keluar dari mobil dan tidak menoleh lagi memasuki gerbang kostnya. Aku menjalankan mobilku dan termenung sendiri bercampur baur dengan segala perasaan tidak dapat terucapkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *